Kayu Akha menjadi bagian penting dalam masyarakat Adat Lampung. Kayu Akha yang disebut juga Pohon Hayat dalam terminologi Jelma Lampung dalam Rumpun Pesagi Seminung pada dataran tinggi Sekala Bekhak. [1]
Pohon hayat adalah gagasan umum dalam budaya di seluruh dunia. Itu terkadang mewakili sumber kehidupan, kekuatan yang menghubungkan semua kehidupan, atau siklus hidup dan mati itu sendiri.
Mitologi Lampung menjadikan pohon Hayat sebagai perlambang pertumbuhan dan perjalanan kehidupan manusia
Secara filosofis Kayu Akha digambarkan bersama dengan makhluk serta kehidupan insani dan hayati.
Penggambaran Kayu Akha termanifestasi dalam media Kain Pelepai bahkan juga Kain Sebagi, beberapa di antara tipologi wastra tradisional masyarakat adat Lampung.[1]
Dalam mitologi Jelma Lampung, Kayu Akha sebagai Pohon Hayat merupakan tumbuhan mitologi yang pada puncaknya dihinggapi oleh sesosok Garuda raksasa.
Kayu Akha dalam perwujudan Pohon Hayat menggambarkan pertumbuhan kehidupan insan.[1]
Bahkan simbol Garuda yang mengembangkan sayapnya pada puncak Kayu Akha dijadikan sebagai inspirasi dan teraplikasi pada Sigokh atawa Siger sebagai mahkota adat Lampung. [1]
Pohon Hayat, merupakan pohon kehidupan atau tree of life. Ini arketipe luas yang umum bagi banyak agama, mitologi, dan cerita rakyat. [2]
Referensi
- Budi Setiyawan, Kayu Akha, Pohon Hayat Lampung, Lambang Pertumbuhan Kehidupan Insani, Media Lampung
- Encyclopedia Britannica
Post Views: 86